Masih ada remidi.

Rencana membuat kita hidup dengan rasa aman yang palsu. Hitungan manusia terdengar sempurna, lupa kalo hitungan paling tepat ya hitungan Tuhan. Kita berhitung inilah saatnya, namun ternyata saat ini pun masih belum. Kamu dan aku harus sedikit menunggu lagi. Tak apa, meski kecewa percaya semua ini memang yang terbaik untuk kita.

Aku tau, kamu terkadang masih suka berpura-pura. Baik-baik saja adalah peran yang sering kamu mainkan. Kamu sangat hebat dalam peran itu, semua percaya. Tapi aku tidak. Tapi aku bisa apa? Tidak banyak yang mengerti selain kamu, katamu. Memang betul, kamu masih sangat asing buatku. Tapi kita selalu bersama. Setidaknya kamu tidak pernah benar-benar sendiri.

Kamu ingin meraih mimpi, tapi kamu adalah punggung keluarga. Mereka tidak banyak menuntut, tapi kamu sadar diri. Harapan itu ada padamu.

Saat ini mungkin kita sedang diuji, untuk menuju tempat yang lebih tinggi. Sabar dan ikhlas adalah kekuatan kita. Jangan pernah berhenti. Ini bukan akhir, tapi awal yang baru. Tidak usah melihat kanan kiri kalo itu membuatmu menyalahkan diri. 

Mari fokus terhadap langkah kecil kita. Tidak perlu pura-pura saat kita berdua saja. Menangis bukan berarti lemah, mengeluh bukan berarti tidak beryukur. Saat ini memang rencana kita lagi-lagi bersimpangan dengan kenyataan, tapi kita masih bisa buat rencana yang lain lagi. 

Cerita ini membuat hidup kita lebih berarti. Untuk kita, aku dan kamu yang ternyata satu orang. Jangan berhenti ya!! Mari berhitung lagi, jika ternyata salah kan masih ada remidi. Kalo belum kiamat, kita masih punya kesempatan. Salam dari aku untuk kamu dan kita.

Komentar