Kali ini bukan tentang Aku.
Hei bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik ya, kalaupun saat ini sedang tidak baik, semoga segera membaik.
Aku akan kembali bercerita, kali ini bukan tentang aku. Akhirnya~. Cerita yang awalnya aku pikir cukup untukku saja, tapi setelah dipikir lagi, tak apa membaginya, kan'? Membagi pada dunia, bahwa Aku yang sekarang tidak tercipta langsung begitu saja. Ada sosok hebat membentukku. Cerita ini aku persembahkan untuk Bapak, Ayah, Papa apapun sebutannya.
Oh iya, Selamat hari Ayah.
Bapak, aku memanggilnya begitu. Beliau adalah adalah sosok terkuat dalam rumah. Sosok sederhana yang tidak banyak pinta. Seorang Bapak yang keras terhadap anak-anaknya. Karena beliau tahu bahwa dunia ini tidak aman, anaknya harus kuat dan tangguh.
Bapak tidak pernah memberikan hadiah saat aku juara kelas, tidak memberi pujian saat aku berhasil puasa sebulan penuh.
Tidak perhatian, pikirku dulu. Nyatanya itulah perhatian dia, kasih sayang dia. Bapak menunjukkan secara tersirat jika semua usaha yang aku lakukan bukan untuk mendapat imbalan atau pujian, melainkan untuk aku sendiri.
Dia adalah seorang yang tegas. Tak suka manja, tak suka orang yang tidak punya pendirian.
Mau atau tidak? Jawab saat itu juga. Tidak ada kesempatan kedua.
Bapak sangat protektif sekali. Sampai lulus sekolah, aku tidak di izinkan untuk bermain selepas kelas, pun saat aku sudah bertitel "karyawan". Dulu aku terkekang, selalu menyengaja untuk pulang larut jika suatu waktu berhasil pergi keluar. Bapak pastilah belum tidur, dia menunggu tanpa banyak kata sembari memberbaiki apa saja yang bisa diperbaiki, TV, remote atapun mur kacamata. Saat aku mengucap salam, Bapak menghentikan kegiatannya. Berdalih, dia akan melanjutkannya besok.
Apa yang terjadi besok? Tidak ada, Bapak tidak melanjutkannya karena sesungguhnya tidak ada yang musti diperbaiki. Saat itu Bapak sangat khawatir. Dulu aku tidak mengerti.
Bapakku bukan sosok yang sempurna, tapi dia Bapak terbaik bagi anak-anaknya, setidaknya bagiku untuk saat ini, dan seterusnya.
Itulah sedikit ceritaku tentang Bapak. Ada banyak sebenarnya, mungkin lain kali mari bertemu kembali dengannya lewat ceritaku yang lain.
Selesai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh masih ada.
Dulu, gambaranku tentang Bapak tidak seindah ini. Aku sempat membawa kebencian untuknya. Tak ada hal baik yang bisa kulihat dari Bapak. Inilah yang membuatku sangat sangat sangat menyesal.
Cerita di masa itu ingin aku ubah, bukan ceritanya yang kurang menarik tapi karena cerita itu terasa salah. Aku salah mengambil sudut pandang. Tapi tak akan pernah bisa, sang pemeran utama sudah tiada. Tak ada lagi yang bisa di ubah, sampai kapanpun cerita itu akan selalu ada.
Mungkin sekarang Bapak tak lagi di sini, tapi sosoknya akan terus aku bawa, pada darah yang aku punya, mengalir darahnya juga.
Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Caranya mungkin akan berbeda-beda. Sebagian ada yang seperti Bapak, sebagian kebalikannya. Begitupun orang tuamu. Aku tidak tahu hubunganmu dengan mereka seperti apa, tentunya kalian punya hubungan yang unik.
Kecewa terhadap orang tua adalah hal wajar, tapi membenci adalah salah. Iya salah, karena mungkin saja kebencian yang terasa itu adalah rasa cinta yang teramat besar. Sangat sangat besar. Memaafkan bisa saja menjadi jawaban dari semua rasa sakit kamu terhadap mereka. Menerima bahwa ketidaksempurnaan dan ketidakmampuan mereka bukanlah sesuatu yang harus disalahkan, tapi itu semua dijadikan sebagai pengajaran. Tidak mudah memang, butuh banyak waktu.
Tapi jangan lupakan satu hal, waktu itu terbatas. Entah waktu siapa dulu yang habis, tak pernah ada yang tahu. Selagi masih ada waktu, jangan menunggu. Menunggu apa sebenarnya? Jangan sampai menyesali saat semuanya sudah pergi, itu tidak berarti.
Kali ini sampai di sini, lain kali mari bertemu sosok hebat lain, pasangan Bapak, yaitu Ibu.
Sampai jumpa~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh! Tunggu!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada sesuatu yang mau kuberitahu.
Aku tidak berjanji, tapi aku usahakan ada satu tulisan tersaji dalam mangkuk ini setiap minggunya untuk kamu nikmati.
Terimakasih sudah membaca sampai habis, aku harap kamu dan orangtuamu sehat selalu. Semoga kesalahpahaman antara kamu dan mereka segera mencapai titik temu.
Kali ini beneran sampai di sini.
Komentar
Posting Komentar