BATASAN.
BATASAN.
Kumulai nulis lagi.
Siapapun yang merelakan waktunya buat baca tulisanku ini, ku mahu bilang Terimakasih. Terimakasih. Tolong dibaca sampai akhir. Terimakasih.
...
Batasan.
Batasan perlu ga sih? Kalo bagiku perlu. Kita ga harus ceritain semua yang terjadi dalam hidup kita di sosial media, termasuk soal kisah asrama. Ya asmara. Kudu ada yang namanya PRIVASI. Valid. No Debat.
Jujur, agak geli sih dengerin nasihat gini dari diri sendiri. Orang yang kadang suka too much information di snap WA 😂😂?
But but but meskipun To Much Information.I still have boundaries. Really. Die Grenzen zu setzen, kalo istilah dalam bahasa Jermannya. Artinya: Menempatkan batasan?
Aku membatasi diri agar tidak:
1. Menceritakan soal pasangan aku di sosmed. (emang punya?)
Aku bahagia liat orang-orang yang bahagia sama pasangannya di sosmed. Mungkin bahasa tiktoknya ku senang melihat ke uwu an orang-orang sama pasangan mereka. Seneng aja gitu liatnya. "Entar aku juga mau kaya gini ah sama pasanganku." begitu gumamku saat menonton ke uwu an orang lain.
Semua itu tapi hanya ada di kepala, aku ga akan melakukan itu.
Aku ga akan menunjukkan kebaikan partnerku pada khalayak. Aku ga akan puji2 dia pinter, ganteng, baik, sholeh di sosial media. Aku gak mau karena cerita2 manis aku soal dia, ada orang lain yang suka, terus coba buat ambil dia dari aku 😂😂😂. Possesif.
Beneran lo, emang kalian ga pernah punya pikiran gitu, kalo kalian terlalu meromantisasi pasangan kalian di sosmed eh tetiba ada lakor2 yang kepincut. Terus ngelakuin segala cara buat rebut dia dari kita? Terus lagi penyakit A'in itu memang bener adanya.
Ini cuma pendapat aku, kalo kalian ga setuju ya bearti kita beda pendapat aja. Bukan berati kamu paling bener. Bukan berati aku yang salah.
Dan pendapatku sedikit banyak dipengaruhi oleh tayangan di Ind*siar favorit mamahku yang lagunya "Ku menangis~ membayangkan.. Betapa kejamnya dirimu atas dirikuu~~
Oke stop!
Tapi jika suatu hari aku berubah pendapat, itu bukan berarti aku menjilat ludah sendiri. Tetapi artinya aku sudah tumbuh. Sudah lebih baik dari aku yang ini.
Lanjut~
Tapi gimana kalo ternyata pasanganku sendiri yang mau di umbar? Kurasa tidak akan. Kita bersama karena satu frekuensi. Sangat OPTIMIS untuk masalah ini. 😏. Eh kecuali pas nikah, tentu saja kita akan umbar kabar itu ke seluruh penjuru negeri. Janji.
Bukan cuma cerita manis, cerita jelek pun ga akan aku umbar di ranah umum.
Aku ga mau membuat orang benci ke dia, gara-gara cerita jelekku soal dia disaat aku lagi ga baik2 aja. Dia adalah anak kebanggaan ortunya, kakak terbaik adiknya. Ku ga mau membuat keluarganya sedih. Hanya karena dia sudah tidak sama aku lagi.
Mulia sekali kamu nak!
Kalo kata Nadin Amizah, si ibu peri. "Walau akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu."
Cara bersoraiku yaitu dengan tidak membicarakan kejelekan dia ke orang2. Lagi, itu hanya caraku.
Nah itulah batasan aku supaya hidup kami memang untuk kami saja. Untuk saat ini biarkan begini. So sweet sekali 😅😅
Mungkin ada kalanya aku pengen seisi dunia tau soal dia, aku pengen nunjukin, Ini lho orangnya!!!!! Tapi kutahan dulu. Sebelum akad apapun bisa terjadi.
Sebagai orang yang ekspresif kadang aku ga bisa nahan perasaan meletup-letup seperti itu. Semuanya tergambar jelas!! Makanya tulisan ini bisa jadi rem bagi aku atau mungkin juga bagi kamu.
Setiap orang punya cara masing-masing buat jalanin hidup ini. Cara orang mencinta pun berbeda. Tidak ada yang paling baik, semua sama. Menurutku semua orang itu hebat kalo tetep jalani hidup ini sampe akhir. Mau sendiri atau bareng-bareng itu terserah.
Udah segini aja.
....
mantap..
BalasHapusterimakasih bel bel sudag berkunjung
Hapus