Tanggal Merah.

Tanggal merah.

Hari ini tanggal merah untuk saya. Hanya untuk saya. Karena sebenarnya hari ini masih hari kerja. Jika terasa penat, saya memilih untuk rehat.

Saya dengar dia akan kesini, urusan kerja.

Langit masih gelap, saya sudah di stasiun. Belum banyak orang, hanya saya dan petugas stasiun. Rupanya si petugas tak cukup tidur. Mendelik ketika saya meminta tiket. Menyebalkan.

Jujur,  hari ini saya tak punya tujuan. Hanya ingin rehat, saya bilang. Memilih bangku paling belakang, tak ingin diganggu. Walau sebenarnya satu gerbong hanya ada satu orang, menyedihkan.

Selama perjalanan saya tertidur. Tak ada footage yang saya rekam,  menyebalkan. Padahal sengaja memory saya kosongkan.

Sampai tujuan,  sedikit ragu. Hendak kembali, tapi urung.

Kereta akan berangkat, saya harus turun. Sebenarnya kemana orang-orang? Kenapa disini juga sepi?

Stasiun di sini beraroma kayu, menurut saya. Karena warnanya coklat. Ha.

Ini titik terjauh di negeri ini yang pernah saya injak, barangkali. Sedikit asing, tapi terasa sama. Yang beda, wajah asia jarang ditemukan di sini. Seketika rindu kampung halaman. Bandung, seperti apa dia sekarang?

Hampir 7 tahun saya di negeri orang,  baru satu kali saya pulang. 3 tahun lalu,  lama sekali bukan. Untung jaman semakin maju, saya tetap bisa melepas rindu dengan ibu.

Akhir tahun rasanya tabungan saya cukup untuk membeli tiket pulang.

Kerena sudah disini ayo nikmati. Mulai merekam apa saja yang ada disana,  membuat vlog tentu saja! Biarpun hari ini tanggal merah. Jika sudah begini,  saya akan lupa segalanya. Terimakasih.

Pertama, saya arahkan kamera ke arah kereta lain yang mulai melaju. Meninggalkan perasaan sedikit hampa, seperti perpisahan. Tapi kali ini tak terjadi.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bisa melihatnya secara dekat. Terasalebihdekatdilensa kamera. Tepat di depan mata.

Kyaaaaaa! Kalian tau. Dia. Dia idola saya. Seseorang yang saya kagumi.

Berita itu benar. Dia ada disini. Sendiri. Tanpa nama besarnya. Memakai kaus berwarna putih, dia terlihat segar.

Apa yang harus saya lakukan? Oksigen rasanya menipis, sampai otak membeku ditengah udara panas. Masih melihatnya lewat lensa kamera, dia tersenyum. Ramah, dia memang ramah.

Dia mulai pergi, tapi tidak jauh. Dia memutar dan naik ke arah tangga. Sampai lensa tak menangkapnya.

Menurunkan kamera, dia memang sudah tidak ada di depan. Melainkan tepat disamping kanan. Mimpi apa semalam?

Mengapa tak bergerak. Mengapa kaku? Mengapa?

Selamat siang. Dia menyapa. Suaranya merdu, seperti biasa.

Akhirnya,  tubuh bisa dikendalikan. Kikuk, tak membalas sapanya. Seperti orang bodoh, dia memaklumi.

Dia tak pergi, tetap disisi. Sepertinya dia tersesat. Mungkin. Saya harus membantunya. Tidak yakin. Saya yang butuh bantuan, rasanya.

Hah.

Ingat mantranya,  pejamkan mata, tenang,  kamu masih bernapas. Berhasil. Tak lagi kaku. Meski debar jantung masih bertalu.

Dia bertanya, ini dimana?

Benar, dia tersesat. Mungkin terpisah dari rombongan ketika baru tiba.

Oh tidak begitu, hari ini dan besok adalah tanggal merah untuknya. Sebelum dia kembali harus bekerja. Hari ini berniat keliling kota, seorang diri. Ternyata kita satu kereta!!!

Lucu. Sepertinya dia malu. Tempat ini mungkin sangat asing untuknya, saya juga.

Picik, saya sedikit memanfaatkan kesempatan ini. Berlama-lama tak ingin dia pergi. Sampai akhirnya tersadar, dia jauh dalam jangkau.

Berat hati, menyebutkan tempat dan kereta apa yang harus ditempati untuk kembali. Terlihat bahagia, wajahnya cerah senyumnya merekah. Indah.

Sebuah ide dicetuskan, membuat dada terasa penuh. Katanya sayang harus kembali. Disini sunyi, rasanya pas untuk menyepi. Ruang sendiri.

Dia orang baik. Dia meminta tolong. Bagaimana jika saya menjadi teman perjalanannya sehari ini.

Bodoh jika saya menolak. Tentu saja.

Saya mengakui, inipun pertama kalinya saya kemari. Dia tidak kecewa. Dia lebih bahagia. 

Aneh. Obrolan terasa ringan. Memang,  dia orang yang menyenangkan. Dia banyak bertanya. Dengan senang hati, dia dapat jawabannya.

Seperti teman lama, kita banyak bertukar cerita. Cerita dia tentang kunjungannya, lebih dari satu kali kemari. Dan cerita bagaimana saya ada disini.

Baik hati dia menawarkan diri untuk memfoto, dan bersedia merekam. Setelah saya becerita saya suka membuat vlog.Tapi saya tak mau. Saya ingin hari ini hanya untuk sendiri. Tak ingin berbagi. Hal ini rahasia. Jangan bagi tahu dia.

Tak banyak tempat singgah di sini. Hanya taman,  hutan,  dan lapang. Juga rumah makan dekat stasiun yang menawarkan berbagai makanan mexico. Syukurlah. Perut tidak perlu kelaparan. 

Tak banyak orang datang kemari. Dalam hati, berucap syukur tanpa henti. Tak ada orang menyadari, dia. Dia, yang saat ini mengambil gambar hutan pinus lewat jendela rumah makan ini.

Saya suka kota ini. Dia bilang. Suasanya seperti Yogyakarta tapi lebih asri dan sunyi. Tidak, ini seperti di Bukit Tinggi, koreksinya. Bersemangat, seperti Tom jika bicara tentang club skating favoritnya.

Dengan sopan, dia meminta untuk diambilkan gambar. Untuk ditunjukkan ke ibu. Tak diminta pun, saya dengan senang hati memotretnya. Untuk memenuhi dinding kamar yang sudah penuh olehnya. Baru ingat, satu fotonya di robek Gajah mungkin ini bisa menjadi gantinya.

Gajah. Suatu hari saya ingin dia bertemu dengan Gajah. Semoga.

Tidak mau berfoto bersama? Tanyanya. Tersentak, menyadari apa yang diucap. Wow, dia salah tingkah.

Tentu.

Dia tinggi sekali. Seperti vater. Bahkan lebih tinggi.

Boleh saya mengganti dia dan saya menjadi kami? Hanya empat kali, saya janji.

Kami berdiri bersisian, ah di kamera hanya terlihat pucuk kepala saja. Alhasil fotonya menggelikan. Dia terbahak. Meminta maaf karena terlalu tinggi.

Akhirnya, kami berfoto di pantulan kaca gelap restoran. Terlihat seperti bayangan hitam,  tapi jika lebih teliti. Itu foto kami. Saya suka hasilnya. Dia juga.

Matahari masih terik, meskipun waktu sudah malam. Enggan untuk kembali. Tapi harus. Dia punya urusan.

Jika besok terbangun dalam kamar, hari ini pastilah mimpi. Menyedihkan.

Kami duduk berhadapan di kereta. Sedikit kecewa, karena tak bisa lebih dekat. Dia terlihat lelah, tapi senyum masih merekah. Terimakasih katanya.

Tak ingin hari ini berakhir. Ingin meminjam mainan mesin waktu milik Tom yang terabaikan di gudang.

Masih ada 5 jam tersisa. Tak boleh sedikitpun terlewat. Tapi Dia menyerah, kelopak matanya tertutup,  napasnya teratur. Dia tertidur. Dia memang harus tidur 8 jam.


.....


Kepala rasanya pusing. Suara dering ponsel mengganggu. Gajah mencoba menarik selimut tipis yang nyaman.

Menyerah.

Sudah siang ternyata, matahari sudah menyengat. Sudah pukul 2. Terlalu banyak tidur rupanya. 

Dering itu telepon dari kantor. Mengapa hari ini tidak masuk katanya.
Teringat semalam adalah kamis, hari ini bukan akhir minggu. 

Kejadian kemarin ternyata memang hanya mimpi. Menyebalkan.

Tak ingin terlalu jauh, sepertinya harus mandi.

Setelah mandi perut terasa lapar. Sial! Tak ada makanan di kulkas. Kenapa sampai bisa lupa belanja?

Di luar panas sekali,  dan di sini tak ada ojek online. Menyebalkan.

Kenapa banyak mengumpat?

Dengan berat hati, siang ini harus berpisah dengan kipas baru. Gajah berguling nyaman dekatnya, mengejek.

Makanan untuk gajah masih ada dua kantung besar. Dia aman.

Membuka pintu, ternyata ada orang yang ingin bertamu. Senyum itu. Ck.  Tidak mungkin. Hawa panas dan lapar membuat mudah berhalusinasi.

Tapi ini terasa begitu nyata, senyumnya.

AH! Ingat mantranya, pejamkan mata,  dia tak ada. tenang,  Kamu bermimpi.

Hai, sapanya.

Merdu, sekarang berdelusi.

....


Mimpi itu masih menggantung, tapi Yang Kuasa telah lebih dulu memberi karunia. Dalam khayal semua terasa lebih dekat, tak apa. Sedang masa transisi.

* Gajah itu kucing, bulunya berwarna abu arang.

Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta. Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya. (Tuan Nona Kesepian-Tulus)

Ini hanya khayalan sang Nona.

Komentar