Sambung cerita lagu.
Bumerang.
.
Dia bukanlah sosok sempurna, hanya seorang remaja laki-laki bertubuh tinggi besar dan mempunyai senyum yang kau akui menawan. Duduk paling belakang persis di samping jendela yang mengarah ke lapang. Oh jangan lupakan dia juga pintar membuat puisi dan lagu.
Satu hari saat pelajaran kesenian, dia dengan gagah maju ke depan, menyanyikan karyanya. Liriknya tak biasa, sederhana tapi sulit dipahami. Diam-diam kau mengartikan setiap kata yang dipilihnya. Tapi, tak pernah kau temukan muaranya. Hingga dengan sedikit lancang kau bertanya.
Mungkin disitulah titik awalnya. Sejak kau dengan agak malu berjalan kearah meja paling belakang. Sepi. Hanya dia dan kau disana. Wajar, bel pulang berbunyi 25 menit yang lalu.
Kerut kejut terpancar diraut wajahnya, mungkin tak menyangka kau mendatanginya. Lagumu bagus. Katamu. Mampu kau lihat bersit merah menghiasi kedua sisi wajahnya.
Saat itulah harimu berseri. Hatimu hangat kala membaca secarik kertas dengan tulisan tangannya yang dia khususkan untukmu. Kau suka mencari tau tentang arti kata yang dipilihnya.
Teman-teman bilang kalian berdua sekarang dekat. Sering pulang bersama, dan menghabiskan waktu berdua. Kaupun merasa sepertinya dia telah jatuh cinta.
Senyumnya merekah saat tak sengaja iris kalian bertemu. Pipinya memerah saat punggung tanganmu sedikit menyinggung tangan besarnya.
Tapi kau tidak begitu, tak ada rasa berdebar saat bersamamanya. Tak ada kupu-kupu diperut yang menggelikan. Yang ada hanya rasa kagum dan hangat ketika membaca puisi darinya, tidak lebih. Tapi, semua orang termasuk dia salah mengira.
Seperti kau yang kejam, melukai hati bersihnya. Meski coba mengurai, kemelut itu masih kusut.
Kini semuanya berbalik.
...
Bumerang adalah judul lagu milik Tulus.
...
Sedang susah tidur, mungkin perut terlalu banyak amunisi.
Kali ini sampai disini, kembali lagi.
Sampai jumpa.
.
Dia bukanlah sosok sempurna, hanya seorang remaja laki-laki bertubuh tinggi besar dan mempunyai senyum yang kau akui menawan. Duduk paling belakang persis di samping jendela yang mengarah ke lapang. Oh jangan lupakan dia juga pintar membuat puisi dan lagu.
Satu hari saat pelajaran kesenian, dia dengan gagah maju ke depan, menyanyikan karyanya. Liriknya tak biasa, sederhana tapi sulit dipahami. Diam-diam kau mengartikan setiap kata yang dipilihnya. Tapi, tak pernah kau temukan muaranya. Hingga dengan sedikit lancang kau bertanya.
Mungkin disitulah titik awalnya. Sejak kau dengan agak malu berjalan kearah meja paling belakang. Sepi. Hanya dia dan kau disana. Wajar, bel pulang berbunyi 25 menit yang lalu.
Kerut kejut terpancar diraut wajahnya, mungkin tak menyangka kau mendatanginya. Lagumu bagus. Katamu. Mampu kau lihat bersit merah menghiasi kedua sisi wajahnya.
Saat itulah harimu berseri. Hatimu hangat kala membaca secarik kertas dengan tulisan tangannya yang dia khususkan untukmu. Kau suka mencari tau tentang arti kata yang dipilihnya.
Teman-teman bilang kalian berdua sekarang dekat. Sering pulang bersama, dan menghabiskan waktu berdua. Kaupun merasa sepertinya dia telah jatuh cinta.
Senyumnya merekah saat tak sengaja iris kalian bertemu. Pipinya memerah saat punggung tanganmu sedikit menyinggung tangan besarnya.
Tapi kau tidak begitu, tak ada rasa berdebar saat bersamamanya. Tak ada kupu-kupu diperut yang menggelikan. Yang ada hanya rasa kagum dan hangat ketika membaca puisi darinya, tidak lebih. Tapi, semua orang termasuk dia salah mengira.
Seperti kau yang kejam, melukai hati bersihnya. Meski coba mengurai, kemelut itu masih kusut.
Kini semuanya berbalik.
...
Bumerang adalah judul lagu milik Tulus.
...
Sedang susah tidur, mungkin perut terlalu banyak amunisi.
Kali ini sampai disini, kembali lagi.
Sampai jumpa.
Komentar
Posting Komentar