Rehat.

Rehat.

Dua puluh tahun berlalu, banyak yang terlewati. Duduk, diam atau berjalan semua dilewati. Rasa sesak di ulu hati memikirkan bagaimana langkah ke depan membuat semuanya terasa semakin berat. Rasa takut menghantui hari-hari, mengkhawatirkan esok yang tak pasti.

Semua ada masanya, begitu katanya. Mulai Dia bertanya, kapan tepatnya? Waktu tak bisa ditarik mundur. Terus berjalan, tak ada jeda. Begitu kira-kira pikir Dia. Dia tak bisa terus diam di kereta waktu yang terus berputar. Harus Dia melakukan sesuatu. Tak boleh sedetikpun berlalu. 

Nyatanya, dia tetap tertinggal. Waktu semakin jauh, tapi masanya masih belum tiba. Perlahan semangat memudar, rasa takut meninggi. Apa yang seharusnya dilakukan? Tetap berjalan meski tertinggal, atau diam sejenak kemudian berlari?




Bandung, 05 Oktober 2018.

Tertanda,


Dia.

Komentar